Selasa, 14 Juni 2011

Hoek...!!

Hoek... hoek...!!!
Suara dari ruang sebelah itu membuat konsentrasi kembali pecah.

"Muntah lagi ya?" berteriak dari dalam kamar. Ah, pertanyaan bodoh.

"Iya..." ia menjawab lirih.
Walau dengan berat hati dan malas-malasan, tak urung membuatku menyeret langkah ke arahnya.

"Aduh, astaghfirullah!!! Kok nggak di kamar mandi aja sih?"

"Ya..., nggak bisa ditahan," jawabnya sambil memelas dengan wajah pucat.

Sementara di lantai muntahan berceceran, tak jauh dari tumpukan pakaian yang belum disterika. Sambil bersungut-sungut, kuambil kain pel untuk membersihkannya. Juga tak pula berhenti mengomel dan menutup hidung dengan sapu tangan. Kan jijik, lagi. Bahkan kubersihkan kotoran itu sambil mata memandang ke arah yang lainnya.

"Itu makanan kemarin deh, kayaknya," sambil nyengir. Aduh nih istri, pakai ngeledek suami.

"Ih, kagak lucu lagee!"

Ia menahan senyum karena tahu suaminya nggak tahan jijik.

Selesai, aku pun segera balik ke kamar. Membenamkan diri dengan tumpukan jurnal dan rumus matematika yang perlu pembuktian. Begitulah, suasana kuliah di Jepang. Waktu dua puluh empat jam sehari pun seperti tak cukup untuk penelitian. Perintah sensei bagaikan sabda Tuhan. Laksana dewa, segala kehendaknya harus cepat dikerjakan. Kalo nggak? Wah...

Sementara istriku meneruskan pekerjaannya sambil sesekali menatap Yon sama di layar tivi. Siapa sih nggak kenal laki-laki ganteng dari Korea yang senyum dan perhatiannya merontokkan hati wanita itu? Bahkan wanita-wanita Jepang, baik yang sudah berumur apalagi yang masih muda, sampai rela menginap di bandara sekadar melihat wajahnya. Gila, sampai segitunya ya.

Huh!!!

* * *

Istriku memang lagi hamil muda, tepatnya dua bulan setelah kami menikah. Perasaan senang tentu saja ada. Tapi seperti pasangan muda lain, kadang persoalan sederhana menjadi begitu sulitnya. Apalagi setelah menikah ia langsung diboyong ke Jepang. Kami pun tidak pacaran seperti gaya anak muda zaman sekarang. Diperkenalkan oleh seorang sahabat, kemudian kami menikah. Bismillah, bukankah Allah berjanji akan menolong dan menjamin rezeki laki-laki dan wanita yang telah menggenapkan setengah diennya?

Sebagaimana sebuah kehidupan suami istri, terlebih lagi bagi aku dan istri yang belum lama saling mengenal, pertengkaran terkadang juga ada. Kadangkala aku yang sulit memahami sifatnya, tak jarang pula sebaliknya. Tapi itulah keunikannya, menjalin cinta setelah menikah. Lagipula, apa ada pasangan yang lama pacaran anteng-anteng saja setelah berumah tangga?

Aaah...
Tanpa sadar, pikiran seketika melayang. Terbayang saat-saat menjelang kepulanganku ke Indonesia untuk menikahinya.

Kuberi kabar kepada teman-teman bahwa aku akan pulang untuk melangsungkan pernikahan. Rasanya aku harus memberitahukannya, karena sebelum ini aku adalah salah satu anggota dari kelompok mereka, Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut). Mereka turut bahagia, tentu saja.

"Eh, laku juga lu!"
Ha ha ha langsung pada ngakak, ketika aku selesai bercerita kepada mereka. Tapi ada pula yang nggak setuju, protes!

"Kagak bisa, ntar anggota Ijo Lumut berkurang dong!"

Idih, salahnya situ lagee! Pingin jomblo forever. Burung aja gampang dapat jodoh. Coba, haree genee masih pada belum nikah? Kiamat sudah dekat bung, kata Deddy Mizwar. Emang enak apa jomblo di negeri orang? Sepi dan dingin, bo! Apa kagak pernah dengar lagu Nobody Wants To Be Lonely-nya Ricky Martin dengan Christina Aguilera?

Tapi pasti ada pula yang mendukung, bahkan kasih saran macam-macam waktu aku bingung dan bertanya,

"Ntar kalo ketemu bokapnya, ngomong apa ya?"

Lalu ada yang kasih saran, "Gi

ni, nyanyikan saja lagu Bapak-Bapak-nya Sheila on 7, Bapak-bapak.. kucinta anakmu jangan kau halangi aku, Bapak-bapak... cobalah mengerti anakmu cinta padaku..."

Ketika aku bertanya lagi, ntar gimana dong kalo ketemu do'i? Gila kan, pasti deg-degan. Mana belum pernah bertemu sebelum ini. Kemudian ada yang kasih pendapat,

"Ih, kudu nyanyi lagu romantis melo-melo lagee! Java Jive saja. Ntar sambil bawa bunga, nah lu nyanyi deh, Oh... menikahlah denganku, oh... bahagialah selamanya..."

Ah, mereka memang pada error semua. Apa karena kelamaan jomblo ya?

Tapi masih untung juga, nggak ada yang menyarankan lagu Arjuna Mencari Cinta-nya Dewa, Akulah Arjuna yang mencari cinta, wahai wanita... cintailah aku...

Namun, bagaimanapun mereka memang lebih dari sekadar teman. Selama ini di perantauan, merekalah saudara terdekat. Suka duka kami jalani bersama.

Syukurlah, seorang al-akh yang telah lama berumah tangga bercerita tentang cara meminangnya Bilal bin Rabah, seorang bekas budak hitam lalu Islam memuliakannya.

Ketika itu, beliau datang bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, kemudian berkata,

"Aku ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian kemudian Allah memerdekakan. Jika pinangan kami diterima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah dan kalau ditolak maka kami mengucapkan Allahu Akbar."

Kemudian, tibalah saatnya pertemuan pertama. Sebelum pesawat mendarat di bandara Sukarno-Hatta, hatiku sudah berdegup tak menentu. Kebayang nggak sih? Selama ini hanya ta'aruf pakai telepon, email, tukar-tukaran foto, dan sebentar lagi aku akan bertemu dengan calon kekasih hatiku.

Duh, ia sekarang ada di depan mata. Menunduk, wajahnya tersipu. Aku pun seperti kucing yang bergaya malu-malu. Kemudian ia menyebut namanya, sambil kedua telapak tangan bertemu di depan dada. Duhai, sungguh cantik dan tampak sholehah.

Sepekan setelah itu kami pun melaksanakan walimatul 'urs. Sederhana, tapi semoga bermakna di hadapan Sang Pemilik Cinta.

Di malam pertama, lagi-lagi kebingungan. Mau ngapain ya? Kami saling diam, hanya hati yang bicara. Wajahnya merona, sedangkan aku panas dingin seperti demam. Syukurlah, aku teringat kembali pesan al-akh di Jepang itu. Ada sunnah Rasulullah, katanya, agar rumah tangga kelak sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sambil menahan gemuruh di hati, kuhampiri dia. Kemudian kupegang lembut ubun-ubun kepalanya, walau tentu saja dengan tangan gemetar. Eh, do'i nyeletuk,

"Idih, udah kagak sabar aje nih Bang," ia menggoda. Hi hi hi ia langsung ngikik. Reseh juga nih do'i.

"Ih, ini sunnah Rasul lagee!" Pura-pura sewot. Maklum pengantin baru, harus mesra dong. Kemudian kubacakan,

"Allahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha."

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya.

Kemudian kukecup keningnya dengan penuh cinta

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)

"Abang...," terdengar lirih ia memanggil. Rupanya karena asyik melamun ia telah berdiri di belakangku. Wajahnya masih pucat. Bahkan tampak semakin pucat.

"Ada apa sih?" tanyaku pula, tanpa menoleh ke belakang. Pura-pura sibuk orat-oret kertas.

"Pijitin dong, agak pusing nih."

"Aduh gimana sih? Nggak tau apa kalo lagi sibuk begini. Besok kerjaan mesti diserahkan ke sensei. Jadi istri ngertiin suami dong!"

Ia tak menjawab, bahkan isak tertahannya pun tak kupedulikan. Kemudian ia menjauh perlahan, mungkin istirahat sambil rebah di futon. Aku tidak menggubrisnya. Gila, daripada diomelin sensei, bukankah lebih baik aku fokus pada revisi jurnal dan persiapan presentasi besok. Lagipula ntar juga pusingnya sembuh sendiri. Punya istri itu nggak boleh dimanjakan. Ntar ngelunjak, lagian biar kelak bisa mandiri.

Seketika aku lupa pesan Nabi SAW, laki-laki yang paling baik adalah yang senantiasa memuliakan istri. Tapi itu kan Nabi, ya wajar lagi. Jadi so what gitu loh!

Ah, masih saja membenarkan diri sendiri.

* * *

Fuiih...
Lega, beban sedikit berkurang. Usai juga presentasi kemajuan penelitian di hadapan sensei dan teman-teman lab. Kemudian duduk di depan laptop, klik Yahoo Messenger.

Buzz...
Wah, baru online sebentar sudah ada yang manggil. Sahabat di Indonesia, rupanya. Lalu ngobrol ngalor-ngidul, segala masalah diomongkan. Dari jatuhnya nilai tukar rupiah, gaji PNS bakal naik, politik sampai gosip.

"Gimana dong kehidupan penganten baru?" tanyanya.

"Wah, asyik-asyik lagee," aku menjawab dengan menambahkan emoticon julurin lidah, weeek! Iya, karena dia masih betah gabung dengan gank para jomblo yang lain, namanya Kejora (Kelompok Jomblo Ceria).

"Tau nggak tetangga gue yang baru nikah seminggu udah berantem lho," imbuhnya. Tuh kan benar, ujung-ujungnya gosip juga. Waduh, soal begini ternyata laki-laki nggak mau kalah ya sama perempuan.

"Eh, ngomongin rumah tangga orang, kagak baek tau! Emang kenape?"

"Idih, lu bilang kagak baek, kok pingin tau?" balasnya sambil gantian pakai emoticon julurin lidah, weeek!

"Iya, istrinya bilang kalo suaminya punya pacar baru, namanya si Hani," tambahnya lagi.

"Lho, kok istrinya tau?" penasaran juga.

"Istrinya cerita begini, Coba gimana gue kagak tau, lha pas nelpon suami bilang, Hallo Hani lagi ngapain? Kangen deh, muaaah…," ia menjawab sambil menambahkan emoticon senyum.

"Wah kebablasan dong suaminya. Pantesan istrinya tau," aku menjawab cepat.

Eh, dia balas sambil menggunakan emoticon ketawa ngakak 10 biji.

"Ha ha ha, lu jauh-jauh sekolah ke Jepang masih bolot juga nih ye!"

Setelah mikir, baru ngeh. Sialan, dikerjain gue-nya!!!

Kriing....
Eh, handphone bunyi.

"Assalaamu'alaykum. Bang, lupa ya? Kan katanya mau nemenin ke klinik buat check up," suara istri dari seberang sana.

Uups, lupa.

"Oh iya, tapi lagi sibuk berat nih!" Duh suami, kalo dicari istri suka sok sibuk.

"Tapi kan sulit pergi sendiri. Temenin dong, lagian kan udah janji," ia menjawab lagi. Nadanya seperti mau nangis.

"Ya udah, tunggu setengah jam lagi!"

Langsung berkemas, walau tak lupa juga ngetik di layar laptop.

"Mau pergi dulu. Ntar awas lu, gue balas ntar!" sambil pakai emoticon kepala setan dengan 2 tanduk.

Dia cuma menanggapi dengan emoticon ketawa ngakak 20 biji.

Dasar!!!

* * *
Aku pun mengayuh sepeda menuju rumah, sambil tak lupa kebiasaan mendengar lagu dari walkman. Terdengar nasyid dari Snada yang menyanyikan Muslim Watashi wa mengalun pelan. Aku mengikuti irama dan melagukannya, biar orang Jepang dengar juga.

Sekai o tsukutta kami wa / Subete no mono mo / Dare ka tsukutta ka / Dare demo dekinai ni keredo / Allah sika suku re nai to wa / Hakkiri to wakatta Aru hito wa naze sore o / Shin yo dekinai no ka Anata no kangae wa do / Watashi wa honto ni shinjiru Quran no mainichi / Yonde kudasai Muslim.. muslim watashi wa

Akhirnya sampai juga di rumah. Kemudian menggunakan kereta listrik bersama-sama ke klinik. Duh, masya Allah kalau pernah melihat janin di monitor USG. Begitu kecil dan tiada daya manusia serta betapa kuasanya Sang Pencipta. Tapi entah mengapa, setelah besar bahkan menjadi orang pintar justru suka melawan perintah-Nya. Ada yang terang-terangan, ada pula yang menyamarkan kejahilannya. Apa benar ya kiamat akan segera tiba?

Tak berapa lama check up rutin selesai. Kami pun segera pulang karena aku harus balik lagi ke lab. Sok sibuk, ceritanya. Sebagaimana wanita hamil yang lain, istriku juga mudah sekali lelah. Wajahnya pucat, jalan terhuyung-huyung bahkan beberapa kali muntah. Aku pun tak juga segera menggandeng tangannya. Padahal kata Rasulullah, dosa-dosa akan berguguran dari sela jari-jemari sepasang suami istri yang saling bertautan.

Karena istri jalannya sambil sempoyongan, ada orang Jepang yang menghampiri dan bertanya,

"Kebanyakan minum sake ya?"

Nih orang Jepang reseh juga, dipikir sama kalik seperti mereka. Kagak lihat apa kalo istri pakai jilbab lebar?

Huh!!!
Sampai juga di rumah. Hanya menghantar sampai depan pintu, kemudian berkata,

"Udah ya, sibuk banget nih. Abang mau balik ke lab lagi."

Sementara istri cuma diam, walau tampak mendung di wajahnya.

Duh!!!

* * *

Akhirnya, tibalah di suatu hari. Siang itu, aku terpaksa pulang lebih awal dari biasanya. Pasti karena kecapekan, tubuh dan pikiran terlalu diforsir melebihi beban yang semestinya. Padahal, bukankah diri ini ada haknya juga?

Beberapa hari terakhir memang kerja hingga larut malam. Akibatnya sering telat makan, kepala pusing hingga mata pun nanar. Bahkan rasanya seringkali seperti mau muntah. Tapi mau bagaimana lagi, kalau ingin selesai tepat waktu ya harus seperti ini, begitu menurut sensei. Ih, kita disamakan dengan budaya mereka. Makanya orang Jepang itu kagak gaul, nggak pula suka basa-basi, apalagi silaturahim. Selalu saja sibuk. Mungkin dalam pikiran mereka hanya ada kerja keras, nggak pingin santai. Beda banget ya dengan budaya orang Indonesia.

Ting-tong...!
Nggak terdengar langkah menghampiri pintu. Kembali bel rumah ditekan, ting-tong...!!

Wah, kemana sih istri nih? Mana badan udah mau meriang begini. Akhirnya, TING-TONG...!!! TING-TONG...!!! Sambil pintu digedor-gedor, dan berteriak,

"ASSALAAMU'ALAYKUM, ADA ORANG KAGAK SEEEH???"

Biarin deh tetangga pada dengar, lagipula mana mereka mengerti?

Nah, benar kan, akhirnya kedengaran juga. Lalu istri bergegas membukakan pintu. Wajahnya sembab dan rambut terlihat kusut masai. Daster lusuh yang dikenakan tidur semalam masih tampak menutupi tubuhnya.

Belum juga ia menjawab salam, udah diberondong dengan pertanyaan,

"Lama banget! Tidur ya. Kok kerjanya tidur mulu sih? Mumpung di Jepang inisiatif cari kegiatan di luar gitu loh!"

Ia hanya terdiam, tapi tampak bola matanya sekilas memandang wajahku yang memang tampak sedikit pucat. Bahkan, belum sempat istriku bertanya mengapa aku pulang tidak seperti biasanya, aku kembali bertanya,

"Ya Allah, ini rumah kok berantakan begini? Tuh juga, pantesan nggak dengar Abang pulang, mutar nasyid sih," ketika melihat pakaian yang sudah kering tapi belum disetrika menggunung di sana-sini. Belum lagi piring, gelas, bekas makan malam masih belum dicuci. Sementara lagu-lagu nasyid masih terdengar mengalun dari komputer.

Istighfar... istighfar... sambil mengurut dada. Duh, suami itu kalo sakit masih bisa ngomel juga ya.

"Iya afwan, tadi kepala pusing. Badan pun seperti nggak ada tenaga, jadinya tidur sebentar," jawabnya perlahan. Mungkin merasa bersalah.

"Padahal tadi niatnya mau nyetrika sambil dengerin nasyid," ia menambahkan pula.

Namun, tiba-tiba tangannya memegang dahiku, lalu bertanya,

"Abang sakit? Kok panas dan wajahnya pucat?"

"Makan dulu yuk. Alhamdulillah, tadi pagi tetangga kita orang Pakistan ngasih lauk kare ayam," bujuknya. Senyum terukir di wajah.

Sikapnya yang baik dan lemah lembut tak urung membuat hatiku luluh.

"Nanti aja. Eh, sudah makan belum? Ntar sakit lagi," seraya merebahkan diri di futon.

"Sudah, tadi terpaksa makan kare sedikit. Eneg sih," sahutnya, sambil masih juga terlihat beberapa kali menahan muntah.

Heran, kok perempuan kalo ngidam tersiksa banget dan permintaan mereka macam-macam ya. Bahkan tak jarang pula terkadang aneh, nggak masuk akal. Mending kalau ada di Jepang, kalau nggak? Istriku pun pernah mengalaminya.

Suatu hari ia pingin makan belimbing wuluh. Coba, mana ada di sini lagi. Terang saja aku misuh-misuh dibuatnya. Dicari di Ueno, pasar tradisional Jepang, yang sering menjual makanan dari Indonesia, nggak ada. Ubek-ubek supermarket, sampai nanya ke penjualnya, mereka malah bilang,

"Oh, yang manis itu kan rasanya?" Tuh, kuper kan?

Akhirnya istri kubujuk, nggak usah kepingin macam-macam deh. Eh, do'i bilang,

"Ntar, kalo anak ngeces mulu gimana?"

Alhamdulillah, syukur ada teman yang berbaik hati membawakannya dari Indonesia.

Entahlah...
Rasanya kepalaku bertambah pusing. Perut pun keroncongan, tapi nafsu makan seperti lenyap entah ke mana. Akhirnya kupaksakan untuk tidur, walau sejenak. Namun tak bisa juga. Istriku kemudian menghampiri sambil membawa minyak dan uang benggol, lalu menyuruhku tengkurap.

"Abang sepertinya masuk angin. Dikerok saja ya," katanya lembut.

"Kok mesti pakai uang rupiah?" aku bertanya, penasaran.

"Idih, kalau pakai uang yen mana mempan. Anginnya nggak mau keluar," jawabnya.

Aku cuma mesem-mesem mendengar penjelasannya. Ilmiah apa tidak, yang penting wes ewes ewes bablas angine, seperti kata Basuki Srimulat.

Aku pun akhirnya diam saja, menikmati kasih sayang seorang istri yang mestinya selalu dicintai. Sementara alunan nasyid masih terus berputar. Lagu Wanita Sholehah-nya The Fikr yang lahir dari Pesantren Daarut Tauhiid Aa Gym kini terdengar. Ditingkahi suara sendawa dan menahan muntah, bergantian.

Perhiasan yang paling indah bagi seorang abdi Allah Itulah ia wanita sholehah, ia menghiasi dunia Di dalam kehidupan ini dia menampakkan kemuliaan Bagai sekuntum mawar yang tegar Di tengah gelombang kehidupan

Aaah...
Sungguh sejuk mendengar alunan liriknya. Benar ya, istri-istri sholehah itu menjadi penyejuk mata dan penawar hati bagi para suaminya. Mempunyai istri yang penuh perhatian kepada suami pun bagaikan memiliki harta yang luar biasa indah. Tapi, entah mengapa tak banyak juga suami yang menyadarinya. Mungkin para suami itu gengsinya tinggi kalik ya?

Kemudian tengkukku dipijit, digosok dengan minyak kayu putih. Hangat rasanya. Cinta seorang istri dan suami memang mestinya saling menghangatkan. Perasaan nikmat menjalar di sekujur badan. Hampir saja aku tertidur karena menikmatinya. Namun, tiba-tiba kok punggung seperti terasa basah, rasa hangatnya beda.

"Nggak usah terlalu banyak minyaknya. Ntar Abang kepanasan!" Masih sempat ngomel.

"Aduh afwan. Udah ditahan pakai tangan tapi muncrat juga."

Huwaaaa....!!!

(Bunga Rampai, Seri 13, Kolom Oase : Usrati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar