Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Rahasia Parenting Nabi Ibrahim

Remaja itu masih berumur belasan tahun. Namun kepribadiannya telah matang. Dewasa. Jauh melampaui usia biologisnya.

Kedewasaan karakter itu tercermin dari logika keimanannya yang sempurna. Maka, begitu tahu bahwa penyembelihan dirinya adalah perintah Allah, ia menjawab dengan tenang: "Hai ayahku... kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat : 102)

Jika hari ini banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya tidak berbakti pada mereka, Ibrahim bukan hanya mendapati Ismail berbakti. Lebih dari itu Ismail pada usia remaja telah membaktikan dirinya tanpa reserve kepada Dzat yang memerintahkan berbakti kepada orang tua. Meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Kita mungkin beralasan, bahwa Ibrahim dan Ismail adalah nabi. Tak bisa disamakan dengan manusia biasa. Memang itu benar adanya. Akan tetapi, bukankah salah satu gelar yang dianugerahkan Allah kepada Ibrahim adalah uswatun hasanah? Maka, dalam dunia parenting pun Ibrahim mencatatkan keteladanan bagi umat manusia sesudahnya. Lalu, apa rahasia parenting nabi Ibrahim?

Selasa, 14 Juni 2011

Hoek...!!

Hoek... hoek...!!!
Suara dari ruang sebelah itu membuat konsentrasi kembali pecah.

"Muntah lagi ya?" berteriak dari dalam kamar. Ah, pertanyaan bodoh.

"Iya..." ia menjawab lirih.
Walau dengan berat hati dan malas-malasan, tak urung membuatku menyeret langkah ke arahnya.

"Aduh, astaghfirullah!!! Kok nggak di kamar mandi aja sih?"

"Ya..., nggak bisa ditahan," jawabnya sambil memelas dengan wajah pucat.

Sementara di lantai muntahan berceceran, tak jauh dari tumpukan pakaian yang belum disterika. Sambil bersungut-sungut, kuambil kain pel untuk membersihkannya. Juga tak pula berhenti mengomel dan menutup hidung dengan sapu tangan. Kan jijik, lagi. Bahkan kubersihkan kotoran itu sambil mata memandang ke arah yang lainnya.

Sabtu, 04 Juni 2011

Sepatu Itu

"Neng, sore nanti antar Akang lihat-lihat sepatu ya ...," pintaku pada istriku yang sedang sibuk menyuapi Zahra makan.

"Kok agak mendadak, Kang?" Istriku agak kaget, sebab tak biasanya aku mengajaknya shopping.

"Kebetulan Ahad ini enggak ada acara ... mungkin ada sepatu yang cocok."

"Ya, bolehlah. Sekalian cari popok murah di Konmaar," kata istriku. Konmaar adalah nama supermarket favorit di Delft, karena harga barang-barangnya yang relatif murah.

Sore itu toko sepatu yang kami tuju tak terlalu ramai. Aku mempersilahkan istriku untuk melihat-lihat sepatu di bagian perempuan. Nanti kalau ada sepatu yang cocok buatku, dia akan kupanggil untuk kumintai pendapatnya.

Dari sela-sela gang bagian sepatu pria sesekali aku melirik istriku yang sedang melihat-lihat sepatu sambil mendorong kereta dorong Zahra. Setelah beberapa menit berlalu, nampak istriku cukup lama berdiri di satu pojokan. Aku segera menghampirinya.

"Hmm, manis juga ya sepatunya ..." sorot mataku ikut tertuju ke sepatu yang sedang dipegang istriku.

"Eh, sudah ada sepatu yang cocok belum?" istriku malah bertanya tentang sepatu yang mestinya sudah aku pilih.

"Enggak ada, Neng. Mungkin nanti. Kenapa nih pegang-pegang sepatu coklat ini?" Aku memancing.

"Enggak apa-apa ... kan tadi disuruh lihat-lihat," jawab istriku ringan.

"Suka ya ... ?"

"Hmm, lumayan lah." Satu cara menjawab khas istriku. Diam-diam aku melihat caranya memegang dan menatap sepatu coklat itu agak berbeda.

"Neng, kayaknya cukup lihat-lihat sepatunya, ya. Katanya mau beli popok ... yuk!"

***

Senin sore, aku agak lebih awal pulang dari kampus. Sepedaku agak cepat kukayuh menuju toko sepatu yang kemarin kukunjungi. Sampai di kompleks Konmaar, bergegas aku masuk ke toko dan membeli sepatu yang aku inginkan sejak kemarin sore.

Sesampai di rumah, Zahra yang mulai pandai berjalan menjemputku di pintu. Kusimpan tas sekolah dan bungkusan sepatu sebentar, lalu aku gendong dan sun anakku. Kutunda kecup sayangku sejenak pada istriku yang sedang masak di dapur. Aku segera menuju lemari pakaian dan menyimpan sepatu yang kubeli. Selesai menyimpan rapi sepatu baru itu, aku ke dapur untuk menyampaikan kecupku yang tertunda. Ia tersenyum, lalu kembali tenggelam menyelesaikan masakannya. Sesekali kami saling bertanya keadaan masing-masing hari itu.

Menjelang tidur.

"Neng, tolong ambilkan kaos yang putih di lemari,"

"Manja amat. Biasanya juga ngambil sendiri," kata istriku. Sementara itu dia tetap berjalan menuju lemari baju.

Sayup terdengar pintu lemari pakaian terbuka. Braakkk, suara benda jatuh itu terdengar.

"Kang, ini apa yang jatuh?!" Aku diam saja.

"Heh, kok sepatu perempuan!?" Teriak istriku dari kamar sebelah dengan nada kaget dan heran.

Aku berjalan menghampiri istriku. Kupeluk perlahan dari belakang sambil aku bisikkan ke telinganya,"Selamat ulang tahun, sayang ... BarakalLaahu."

Beberapa saat istriku terdiam. Suasana menjadi hening. Kepalanya masih menunduk memandangi sepatu di tangannya. Lalu perlahan dia membalikkan badannya menghadapku. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Tangan kirinya menggenggam sepasang sepatu coklat. Lalu tangan kanannya segera meraih tangan kananku dan menciumnya.

"JazaakalLaahu khairan, Kang" Aku rengkuh istriku dan kukecup keningnya sepenuh rasa. Getaran di dada istriku menahan isak harunya semakin kurasakan.

"Wa jazaakilLaahu bi ahsani jazaa ...," bisikku. Aku bersyukur kepada Allah. Kejutan kecil seperti ini semoga menjadi tanda cinta kepada istriku karenaNya semata.

***

Benarlah Rasululullah SAW, panutan kita dengan sabdanya, "Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian saling mencintai."

Seseorang mengatakan, perempuan itu senang mendapatkan hadiah sesuatu yang dia inginkan dan akan lebih menyenangkannya lagi jika hadiah itu didapatkan pada momen yang tak terduga.

***

(EBook Bunga Rampai, Seri 10, Kolom Oase)

Surat Cinta Untuk Calon Suamiku

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh


Apa kabar buat calon suamiku. Semoga Allah sentiasa
merahmati dan memberkati dirimu yang tidak pernah kutemui, namun doaku tidak
pernah putus mengiringi setiap langkahmu demi meraih keridhaanNya
Rasulullah SAW pernah bersabda: "Seindah perhiasan dunia adalah wanita yang
solehah"

Alhamdulillah, itulah anjuran Islam melalui Rasulullah SAW yang kita cintai. Pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga rumah tangga
muslim yang bakal dibina saat menikah nanti.

Wahai calon suamiku,

Dinikahi seorang wanita karena empat perkara, karena hartanya,
keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamannya, maka
beruntunglah kedua tanganmu?.

Itulah sebuah pijakan utama buatmu memilih calon isteri. Sebuah pijakan

utama itu telah menjadi hafalanku sejak aku beranjak dewasa (baca; baligh).

Wahai calon suamiku,

Jika harta yang engkau idamkan, maka ketahuilah diriku bukanlah orang yang
berada. Tiada harta yang dapat kupersembahkan dalam ijab-kabul kita nanti.

Tiada harta sebagai jaminan bahwa engkau akan menikmati sedikit kesenangan
apabila ijab-kabul telah dilafazkan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir?. (QS Ar Ruum: 21)

Jika keturunan yang engkau dambakan, ketahuilah bahwa aku hanyalah manusia
biasa dari keluarga yang biasa pula. Namun apa yang pasti. Aku adalah
keturunan yang mulia, ayahanda adalah Nabi Adam as dan bunda Siti Hawa as,
sama seperti mu.

Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang
yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi
pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari

Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakkal. (QS. Ali Imran: 159-160)

Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku meyakini bahwa
engkau juga tidak terlepas seperti manusia yang lainnya. Ketahuilah wahai
calon suamiku, jika kecantikan itu yang engkau inginkan dari diriku, maka
engkau telah salah langkah.

Tiada kecantikan yang terlihat orang lain yang dapat kupertontonkan padamu.

Telah aku hijabkan (baca; jilbab) kecantikan diriku ini dengan amalan
ketaatan kepada tuntutan agama yang kucintai. Engkau hanya akan sia-sia jika hanya menginginkan kecantikan lahiriah semata.

Dan aku tidak dapat menjanjikan, bahwa aku mampu membahagiakan rumahtangga
kita nantinya, karena aku memerlukan engkau untuk bersamaku untuk menegakkan
dakwah islam ini, dan aku merelakan diri ini menjadi penolongmu untuk
membangunkan sebuah markaz dakwah dan tarbiyah islamiyah ke arah jihad
hambaNya kepada Penciptanya yang agung, Allahu Rabbi.

Mencari ilmu agama secara bersama, marilah kita jadikan pernikahan ini
sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam. Aku masih kekurangan ilmu
agama, tetapi berbekal ilmu agama yang ada ini, aku ingin menjadi isteri
yang sentiasa mendapat keridhaan dari Allah dan suamiku.

Hal itu tak lain untuk memudahkan aku membentuk rumah tangga muslim antara
aku, engkau dan anak-anak kita nantinya untuk dibina dan diberikan pendidikan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Aku pun hanya akan bercita-cita
untuk bisa bergelar pendamping solehah bagi sang suami, seperti yang
dijanjikan Rasulullah SAW.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan
kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan
dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya
kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu?. (QS An Nisa: 1)

Calon Suamiku yang dirahmati Allah

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. (QS. An Nisaa: 34.)

Aku yakin bahawa engkau adalah pemimpin untuk diriku dan anak-anakku sebagai
pewaris dakwah Islam. Maka, jadikanlah pernikahan ini nantinya sebagai asas
pembangunan iman, bukannya untuk memuaskan bisikan syaitan yang menjadikan ikatan pernikahan sebagai hawa nafsu semata.

Semoga diriku dan dirimu sentiasa didampingi rahmat dan keridhaanNya.

Lakukanlah tanggungjawabmu itu dengan nilai kesabaran, dan ketabahan. Semoga
kita akan menjadi salah satu daripada jamaah menuju ke syurga, insya Allah.

Ketahuilah wahai calon suamiku, bahwa aku tidak pernah mendambakan mas
khawin yang hanya akan menyebabkan hatiku buta dalam menilai arti kita
dipertemukan Allah atas dasar agama.

Cukuplah seandainya, maharku adalah sebuah qalam mulia, Al-Quran, karena aku
meyakini qalam itu mampu memimpin rumahtangga kita untuk meraih keridhaanNya
bukan kekayaan dunia yang bersifat hanya sementara.

Bantulah aku dalam memperjuangkan dakwah Allah ini melalui pernikahan,
karena ia adalah tempat untuk aku menyempurnakan separuh daripada agamaku,
insyaAllah. Akhlakmu yang terdidik indah oleh ibu bapa dan orang
sekelilingmu, itulah yang aku harapkan daripada harta duniawi yang ingin kau
sediakan untukku.

Kutitipkan sebagian dari pengetahuanku melalui buku ?Jalan Dakwah? karya
Syaikh Mustafa Masyhur, yang tidak lagi berwujud keborosan dan kebakhilan
karena semuanya berada di dalam sikap qana'ah.

Wahai calon suamiku,

Lihatlah rumahtangga Rasulullah SAW, terkadang sebulan pernah dapurnya tidak
berasap karena tidak ada bahan makanan yang dapat dimasak. Namun, walau
begitu susahnya, rumahtangga Rasulullah SAW tetap menjadi rumahtangga yang
paling bahagia, yang tidak ada bandingnya hingga hari ini.

Terlalu panjang rasanya aku mencoretkan surat ini. Cukup dahulu aku buat surat ini, andai diizinkan aku akan kembali menitipkankan lagi kiriman
bertintakan hati ini. Akhirnya, saya mohon maaf, biarlah rindu ini
ditumpahkan dalam tinta daripada jemu tatkala kita disatukan.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh